Mitra Water

Solusi Kebutuhan dan Perawatan Air Anda

Dampak Eksploitasi Air Tanah

Dampak Eksploitasi Air Tanah

Dampak eksploitasi air tanah – Sejak tahun 1950 aktivitas pengambilan air tanah berlebihan menjadikan kandungan air tanah berkurang drastis. Pengambilan berlebihan ini setidaknya berasal dari lima faktor utama yang menjadi penyebab terjadinya pengambilan air tanah besar-besaran. Kelima faktor utama ini tidak menunjukkan tanda-tanda berhenti atau perlambatan, sehingga proyeksi akan menghadapi kelima faktor utama ini menjadi pendekatan paling realistis.

Faktor pertama yang menyebabkan eksploitasi air tanah berlebihan adalah, populasi, jumlah manusia senantiasa bertambah dan terus bertambah. Sebagian negara telah melakukan banyak kampanye untuk menekan pertumbuhan ini. Namun sayangnya, hal itu berdampak negatif bagi angka harapan hidup yang ternyata juga turut menurun.

Populasi manusia sekarang berada pada angka 8 milyar orang lebih dan masih akan terus bertambah hingga setidaknya tahun 2050. Pada tahun 2050 menurut perkiraan, jumlah populasi manusia mencapai angka 9,5 milyar orang. Bisa kita bayangkan berarti akan ada tambahan kebutuhan air untuk kebutuhan harian sebanyak 1,5 milyar orang.

Apa Ancaman Populasi Yang Semakin Banyak?

Dampak eksploitasi air tanah – Faktor populasi yang semakin banyak akan sejalan dengan prediksi akan bertambahnya golongan kelas menengah. Golongan kelas menengah di sini adalah mereka yang baru saja mengentaskan diri dari garis kemiskinan. Kita akan fokus kepada pola konsumtif dan gaya hidup orang-orang kelas menengah baru ini dan efeknya terhadap kondisi air yang ada.

Golongan ini memiliki kondisi ekonomi yang lebih baik dari pada mereka yang berada di bawah, dengan bertambahnya mereka, artinya dunia semakin ‘kaya’. Dan sudah sewajarnya, pertumbuhan golongan ini akan mengarah kepada pertumbuhan yang progresif setiap tahun, setiap orang kaya ingin tetap kaya dan terus kaya. Pada tahun 2020 ada sekitar 1.324 juta orang yang masuk ke dalam golongan ini khususnya setelah pandemi.

Jumlah ini berkurang dan melenceng jauh dari proyeksi awal yang menyatakan bahwa pada tahun 2020 ada sekitar 3.250 juta orang di golongan kelas menengah. Penurunan kelas konsumsi menengah ini setidaknya cukup berdampak pada ekonomi dan kondisi sosial masyarakat. Namun, memberi kita waktu untuk bisa lebih bersiap dalam mengatur penggunaan, pengolahan dan pendistribusian pasokan air secara global.

Tapi, penundaan ini layaknya jeda pertandingan yang memiliki batas waktu, cepat atau lambat, kondisi akan memuncak lagi. Pemenuhan akan kebutuhan harian akan kembali cepat atau lambat, dan bahkan akan lebih hebat lagi. Sekedar perbandingan saja, antara pola konsumsi kelas menengah dan kelas di bawahnya.

Makanan yang menjadi konsumsi kelas menengah secara umum berbasis protein, dan itu lebih banyak menggunakan air ketimbang yang berbasis sayuran dan biji-bijian. Perbandingannya cukup signifikan, hingga 17 kali lebih banyak air yang kita butuhkan untuk merawat sumber makanan protein ketimbang biji-bijian. Bukan hanya makanan, penggunaan alat-alat lainnya juga mendatangkan kebutuhan akan air, sebut saja mesin cuci.

Belum lagi masalah ketersediaan energi, yang secara umum masih menggunakan bahan bakar fosil. Setiap produksi 1 galon minyak untuk menghasilkan energi, dibutuhkan air dengan jumlah yang sangat banyak. Bahkan miliaran galon air menjadi kebutuhan harian di negara maju seperti Amerika, hanya untuk mendukung kehidupan orang-orang ‘berduit’.

Apa Efek Dari Gaya Hidup ‘Berair’ Ini?

Dampak eksploitasi air tanah – Setelah penggunaan air dan sumber daya lain untuk mendukung gaya hidup sebagian besar kalangan menengah dan menengah ke atas, muncul masalah baru, perubahan iklim. Dan perubahan iklim ini pula yang memberikan percepatan penurunan pasokan air bersih menurun dari hari ke hari. Bagaimana perubahan iklim bisa memberikan dampak pada penurunan pasokan air bersih?

Perubahan iklim erat kaitannya dengan pemanasan global, suhu permukaan bumi makin panas, maka artinya makin cepat air menguap. Suhu yang makin naik juga menjadikan tanaman dan tumbuhan membutuhkan lebih banyak air untuk hidup. Sudah mulai terlihat bukan serangan dari kedua sisi? Di satu sisi persediaan tergerus, di sisi lain kebutuhan menjadi meningkat.

Pola turunnya hujan juga berubah, dan tidak menutup kemungkinan jarak antara turunnya hujan dari waktu ke waktu semakin renggang. Dan semakin jauh jarak turunnya hujan, maka tanah akan semakin tandus dan mengeras. Sehingga meskipun musim hujan datang, air tidak dapat meresap ke tanah melainkan hanya entah kembali ke laut, atau menguap begitu saja.

Apakah Berhenti Sampai Pada Penguapan Saja?

Dampak eksploitasi air tanah – Sayangnya tidak, kondisi perubahan iklim ini nyatanya juga menjadikan air yang kita miliki di penampungan rentan terhadap polusi. Bagaimana itu bisa terjadi, perubahan iklim dengan segala konsekuensi, menjadikan manusia mengambil keputusan-keputusan sulit dan cepat. Dan hal itu menyebabkan mereka mau tidak mau akan merusak kondisi air yang sejatinya adalah sumber yang mereka butuhkan, bagaimana bisa demikian?

Masih ingat, akan pertambahan populasi? pertambahan kelas menengah? Semuanya menghasilkan limbah. Saat produksi kebutuhan mereka, limbah juga dihasilkan, saat konsumsi juga limbah dihasilkan. Nyatanya sedikit dari sebagian besar penghasil dan penikmat ini sadar akan pola pembuangan limbah mereka, yang berakhir di sumber air, sungai.

Sungai yang menjadi salah satu sumber air tawar selain air tanah, semakin banyak terkena polusi dari limbah. Semakin banyak sumber air yang terkena polusi, artinya semakin sedikit air yang tersedia untuk bisa langsung kita gunakan. Dan tentu siklus akan berputar, mengolah air penuh polusi perlu energi, energi perlu air yang banyak, sementara persediaan air habis, kita namakan ‘Day Zero’.

Efek Dari Penyelesaian Seadanya Tanpa Rencana Matang

Dampak eksploitasi air tanah – Empat pembahasan sebelumnya terasa sudah cukup mengerikan dalam memberikan kita gambaran akan bagaimana rumitnya segala sesuatu, hanya karena air. Namun, sebagai penutup dari lima faktor utama yang menyebabkan persediaan air senantiasa mengalami penurunan yaitu, kebocoran. Kebocoran ini meskipun terlihat remeh nyatanya berpengaruh pada sistem secara keseluruhan hingga 60% kehilangan selama 1 tahun.

Kebanyakan kebocoran ini berasal dari buruknya infrastruktur yang umumnya terjadi pada wilayah Timur Tengah dan kota-kota di Asia. Dan kehilangan yang berasal dari kebocoran ini bukan hal yang asing lagi, bahkan hilang sebanyak 50% itu bukan hal yang asing. Bukankah ini sesuatu yang menggelikan? Sesuatu yang bisa diantisipasi namun tidak mendapat perhatian karena kelalaian dan normalisasi.

Kelima poin di atas adalah faktor yang paling banyak berkontribusi pada penurunan kandungan air tanah di suatu wilayah. Tidak terbatas wilayah yang tinggi curah hujan atau tidak, jika hal ini terus dilakukan, bukan tidak mungkin yang tinggi curah hujan pun akan terkena batunya. Poin-poin di atas adalah hal yang masih mungkin untuk dicegah dan dipikirkan mitigasinya.

Dampak Eksploitasi Air Tanah : Wilayah Percontohan

Dampak eksploitasi air tanah – Kita sudah melihat faktor perusak utama, sekarang kita akan berandai, bagaimana jika hari itu datang, seperti apa gambarannya? Gambaran paling nyata tentang bagaimana separuh dari seluruh populasi mengalami kesulitan air adalah Israel. 60% dari wilayah Israel adalah padang pasir dan sisanya termasuk ke dalam kondisi tanah semi-tandus.

Populasi di Israel senantiasa bertambah dan penduduknya berjumlah 10 kali lipat lebih banyak setelah perang dunia kedua. Dan kondisi itu seharusnya semakin memperburuk kondisi ekonomi Israel, karena dengan populasi besar artinya butuh air besar juga. Namun, hal itu dapat teratasi dan kebanyakan penduduk di Israel tergolong ke dalam kelas menengah.

Kondisi curah hujan pun tidak berpihak pada mereka  dan senantiasa mengalami penurunan, namun anehnya, sumber air tetap surplus. Kondisi ini bahkan memungkinkan Israel untuk bisa mengekspor sebagian persediaan air mereka kepada negara tetangga. Tentu peran perencanaan dan penerapan teknologi yang matang memiliki andil dalam perkembangan persediaan air.

Selain itu, negara lain seperti Australia, Singapura dan beberapa negara bagian di Amerika Serikat juga sudah mulai memiliki visi yang sama untuk mengatasi kelangkaan air. 

Belajar dari Sao Paulo, Brazil

Dampak eksploitasi air tanah – Di sisi sebaliknya, kita dapat melihat potret dari negara berkembang yang juga memiliki kondisi iklim tropis, Brazil. Setelah mengalami kenaikan pertumbuhan ekonomi yang signifikan menjadikan banyak dari populasi di Brazil masuk ke golongan kelas menengah. Di samping itu, Brazil juga memiliki sumber air yang sangat terkenal yaitu Sungai Amazon, yang merupakan sungai terbesar di dunia.

Namun, anehnya, meski memiliki sumber air yang berupa sungai, dan merupakan sungai terbesar di dunia, wilayah pusat ekonomi Brazil mengalami masalah air. Kombinasi dari kekeringan dan juga kebijakan pengelolaan air yang buruk menjadi penyebab akan hal ini. Dan Sao Paulo, ibu kota perekonomian Brazil mengalami kekurangan air yang terlihat tidak sesuai dengan pembangunan infrastruktur di sana.

Pada awal tahun 2015, jumlah air di penampungan air Sao Paulo berkurang sebanyak 5% dari kapasitas aslinya. Hal ini menyebabkan penurunan kemampuan produksi listrik, karena wilayah ini bergantung pada PLTA dari penampungan ini. Dan ketika produksi menurun, artinya akan ada pemadaman listrik yang berdampak pada kelancaran operasional semua sektor penggerak perekonomian.

Sekilas mungkin kita belum terbayang bagaimana dampak dari penurunan debit ini terhadap produksi energi listrik di suatu wilayah, berikut gambarannya

  1. Ketika air berkurang, maka tenaga untuk memutar turbin berkurang sehingga turbin kurang maksimal dalam bekerja
  2. Ketika turbin tidak maksimal, maka pemadaman akan terjadi beberapa kali atau bahkan beberapa waktu
  3. Ketika pemadaman terjadi maka sektor kesehatan, keselamatan dan perekonomian akan terdampak
  4. Dampak itu berupa, distribusi air yang terhambat menyebabkan air hanya bisa diakses pada waktu-waktu tertentu saja
  5. Karena distribusi air yang terhambat ini restoran tidak bisa menyediakan makanan, terutama menggunakan peralatan makan, karena tidak ada air untuk mencucinya
  6. Orang-orang akan mulai kehabisan air untuk kebutuhan dasar sanitasi dan hygiene mereka
  7. Sehingga orang-orang akhirnya mulai untuk melakukan pengeboran sumur pribadi
  8. Sumur tersebut juga mungkin mengandung kontaminan dan tidak bisa langsung untuk kebutuhan konsumsi
  9. Naiknya tingkat kriminalitas, karena orang-orang sangat membutuhkan air
  10. Orang-orang mungkin juga mengumpulkan air dari penampungan seadanya untuk menadah air hujan
  11. Dan dengan penampungan seadanya, ada potensi penyebaran penyakit demam berdarah
  12. Berakhir dengan kekecewaan masyarakat terhadap pemerintah, dan layaknya lari dari perang, mereka adalah pengungsi dari musibah kelangkaan air ini

Belajar Dari Negara Bagian Texas

Dampak eksploitasi air tanah – Perkembangan ekonomi yang begitu pesat di Texas pada tahun 2011 nyatanya juga memberikan dampak pada kesulitan air. Pada tahun itu kerugian dikarenakan kekurangan air mencapai 12 triliun dolar AS dari gagal panen dan lainnya. Seperti kita tahu bahwa dengan air yang semakin sulit, maka panen tahunan pasti terkendala karena tanaman sangat bergantung pada air.

Informasi yang ada menyatakan bahwa, ada lebih dari 300 juta pohon yang mati, karena kelangkaan air tersebut. Hal ini berpotensi berasal dari peningkatan aktivitas ekonomi yang begitu pesat sehingga mengesampingkan kondisi air tanah. Peningkatan kemampuan produksi artinya menambah emisi di udara dan di saat bersamaan, menyerap kadar air dalam tanah.

Mengapa menyerap air dari tanah? Seperti yang terjadi di penjelasan di awal, dengan adanya peningkatan produksi, artinya ada peningkatan limbah. Peningkatan limbah berarti peningkatan potensi polusi, hanya dengan menjadi tidak bertanggung jawab, maka polusi ini bisa berakhir di sumber air, sungai.

Sungai yang mengandung polusi sangat dihindari untuk bisa menjadi bahan baku, akhirnya air tanah yang dipilih. Pengeboran dilakukan, dan eksploitasi air tanah mulai dilakukan, sedikit demi sedikit air tanah menjadi bahan baku utama, karena murah bahkan gratis. Tanah perlahan mulai mengeras dan dengan peran andil dari perubahan iklim, kesuburan tanah makin tergerus.

Ketika iklim berubah artinya kadar hujan juga berubah, tanah semakin keras karena eksploitasi air tanah. Saat hujan turun, air hujan tidak mampu meresap masuk ke tanah, hanya akan berakhir ke sungai dengan polusi limbah atau ke laut lalu menguap. Jatah air untuk tumbuhan semakin sedikit, dan hasilnya adalah tiga ratus juta pohon yang mati.

Kesimpulan

Dampak eksploitasi air tanah – Setiap keputusan yang telah kita buat pasti akan membuahkan hasil di masa mendatang, entah itu baik dan buruk. Hasil tersebut sayangnya jarang untuk bisa kita nikmati saat awal-awal kita menanam, yang akan mendapatkannya adalah orang-orang setelah kita. Generasi penerus yang lebih akan rentan merasakan dampak, lagi baik itu positif atau negatif.

Tanggung jawab ini merupakan tanggung jawab yang tersebar pada diri setiap manusia, untuk ikut andil menyelamatkan kondisi generasi ke depan. Pendidikan, ekonomi, industri, semuanya memiliki pola pikir dan tujuan yang sama yaitu kesinambungan. Namun, untuk menuju ke sana, kita perlu melihat lebih sering ke arah ancaman-ancaman yang muncul dari dalam kita sendiri.

Perubahan iklim ke arah yang cenderung negatif juga akibat dari ulah tangan kita sendiri yang sempat acuh terhadap hal-hal sederhana. Hampir semua kita sebenarnya sangat mudah menjadi orang acuh, dan tidak perlu panduan khusus. Faktanya, ketidakpedulian kita mulai membuahkan hasil yang nyata meski belum nampak jelas.

Namun, faktanya memang sebagian besar dari kita, termasuk pihak yang sama yang menyatakan prediksi-prediksi, tidak bisa percaya akan masa depan. Akan hal-hal yang belum terlihat, akan prediksi yang belum mampu masuk ke dalam akal. Maka, berapa lagi kita akan membuka mata akan menentukan seberapa cepat kita akan menuai hasil yang telah kita tanam.

Jika sekarang bukan waktu yang tepat lantas kapan? Apakah kita menunggu sampai semua air di bumi habis? Ataukah kita menunggu sampai semua tumbuhan mati? Mungkinkah kita menunggu sampai semua padang hijau jadi gurun pasir tandus? Atau kita bukan menunggu, melainkan memang sengaja berharap dunia yang kita tinggali hanya sesuai untuk kita saja?

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *