Mitra Water

Solusi Kebutuhan dan Perawatan Air Anda

Kelangkaan Air Bersih dan Masa Depan Persediaan Air

Pengolahan Air untuk mengatasi Kelangakaan Air Bersih
Kesegaran air minum dalam ancaman kelangkaan air bersih

Kelangkaan air bersih akan senantiasa menjadi isu yang patut untuk kita pelajari lebih lanjut. Pertumbuhan populasi dan bertambahnya kompleksitas gaya hidup tidak diragukan lagi mempengaruhi kondisi dan kualitas air. Air yang merupakan sumber daya paling utama dan paling banyak di bumi menjadi semakin langka. Meski air yang ada di dunia terbilang mencukupi untuk kebutuhan penduduknya, hal itu masih belum menjawab kebutuhan sesungguhnya.

Kebutuhan akan air sejatinya berbicara tentang keberadaan air dimanapun dan kapanpun saat air dibutuhkan. Ketika pada suatu daerah memiliki waduk yang besar dengan kapasitas air yang sama besarnya, hal itu belum menjamin kebutuhan akan air di desa dekat waduk tercukupi. Jika terdapat masalah distribusi air dari waduk maka itu sudah terkategorikan sebagai kelangkaan air bersih.

Dari potret di atas, keberadaan air bersih dengan kualitas yang mencukupi harus berada pada posisi aman. Apabila permasalahan kualitas air tetap menjadi isu, maka pendistribusian air bersih juga akan terdampak yang berujung pada kelangkaan air bersih. Dengan demikian maka kebutuhan air tersebut menjadi masalah bagi semua sektor nantinya.

Sektor-sektor yang ada tentu akan berlomba-lomba dalam mendapatkan air bersih yang semakin langka, dengan cara apapun. Air yang telah digunakan tentu kemudian akan mengalami penurunan kualitas. Penurunan tersebut kerap terjadi dengan tidak adanya tindak lanjut terhadap pengolahan sisa penggunaan air.

Permasalahan yang kompleks ini tentu tidak bisa hanya mengandalkan satu langkah penyelesaian saja. Mulai dari manajemen, pengaturan supplai air bersih, pemberian edukasi, hingga penggunaan alat yang mumpuni menjadi pemeran utama untuk mengatasi masalah kelangkaan air bersih.

Kelangakaan Air Bersih dan Kultur Penggunaan Air

Dari dahulu kala, pertanian dan agrikultur adalah sektor yang paling bergantung pada ketersediaan air demi ketersediaan pangan yang stabil. Dewasa ini, sekitar 40% dari hasil pertanian dan 60% dari keseluruhan bahan pangan berasal dari ladang irigasi. Irigasi menjadi tulang punggung bagi negara berkembang dimana sekitar 90% air yang digunakan bertujuan memenuhi kebutuhan irigasi pada pertanian.

Selain dari kebutuhan pertanian akan air, kebutuhan pokok seperti air minum, memasak, mencuci, dan kebutuhan rumah tangga lainnya masih mengalami kesulitan. Sekitar lebih dari 1 miliar manusia di bumi masih kesulitan mendapatkan air yang aman untuk konsumsi sehari-hari. Dengan angka yang demikian besarnya, masalah kontaminasi bahan organik dan juga kimia semakin menambah tugas rumah mengenai kualitas air.

Oleh karena itu pengelolaan pemanfaatan air dari sumber-sumber air bersih perlu untuk mendapat perhatian khusus. Hal itu tidak terlepas dari dampak negatif yang akan timbul apalagi tidak tercipta kesadaran terkait penggunaan dan pengolahan air. Meski demikian pertimbangan akan sektor industri yang juga tidak terlepas dari kebutuhan mereka akan air memiliki peran penting dalam menyikapi masalah ini. Pasalnya dalam kurun waktu 50 tahun terakhir dengan meningkatnya kegiatan perindustrian, kebutuhan akan air juga meningkat dua kali lipat.

Dengan kondisi di atas dapat kita simpulkan bahwa setidaknya ada pihak-pihak yang memiliki kebutuhan besar terhadap air. Sektor pertanian, rumah tangga dan industri memiliki peran penting dalam masalah kelangkaan air yang sedang dan akan kita hadapi di kemudian hari. Hingga pada akhirnya setidaknya hanya akan ada dua pilihan, menambah pasokan air bersih atau membatasi permintaan air bersih?

Meningkatkan Produksi Air

Berbicara mengenai produksi air bersih maka kita akan berhadapan dengan dua musim utama, musim penghujan dan musim kemarau. Terlepas dari garis khatulistiwa atau bukan, air bersih dapat kita peroleh di luar musim kemarau atau dry season. Persediaan air pada sungai, danau, dan sumber air tawar lainnya mungkin akan mencukupi kebutuhan mendasar, tetapi tidak untuk sektor industri.

Sektor industri sangat berkaitan dengan roda perekonomian suatu negara, sedangkan perekonomian sangat berkaitan dengan kesejahteraan negara hingga turun ke masing-maisng rumah tangga. Perindustrian tentu tidak bisa berhenti menjalankan aktifitasnya hanya karena pasokan air yang kurang. Untuk itu, pasokan air yang berasal dari siklus perputaran musim penghujan saja tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan industri.

Tidak hanya sektor industri, pertanian yang menggunakan teknik tadah hujan tentu akan lebih bernilai ekonomis. Irigasi tidak memakan banyak operasional dengan kualitas panen yang masih berpeluang untuk bisa lebih baik. Dengan demikian kompetisi untuk mendapatkan jatah air bersih tiap tahunnya tidak terelakkan dan akan berakhir pada sistem prioritas.

Bendungan untuk Air, Bersih tapi Kotor

Untuk itu adanya penampungan air sebelum melangkah ke produksi air bersih merupakan langkah termudah dan paling mendasar yang bisa dilakukan. Pembangunan bendungan dan waduk merupakan terobosan yang efektif di 50 tahun terakhir namun, dampak pada lingkungan sekitar sering luput dari perhatian. Lingkungan sekitaran waduk atau bendungan cenderung telah kehilangan fungsinya sebagai ekosistem alami, dan membuka pintu menuju permasalahan baru.

Tidak sedikit dari pemilihan tempat atau lokasi yang nantinya menjadi tempat penampungan air berlandaskan kepentingan politik. Hal ini yang tentu menyebabkan banyak lokasi-lokasi tempat penampungan air, banyak yang tidak sesuai dalam kajian keberlangsungan lingkungan hidup. Sehingga penampungan air alami menjadi pilihan berikutnya, air tanah.

Kembali Mendapat Air Bersih Hanya dalam Waktu Singkat

Kondisi bumi yang mampu menyimpan air dalam jumlah besar akan tidak berimbang dengan penggunaan masif oleh penduduknya. Kehidupan yang semakin kompleks dan gaya hidup di era serba instan dan cepat akan mempercepat ketidak seimbangan antara proses dan permintaan akan air. Bukan hanya air bersih saja, air mentah atau raw water akan mengalami kelangkaan apabila tidak mendapat pengolahan dan pendistribusian yang baik.

Air tanah, sebagaimana sebelumnya, merupakan air yang tersimpan pada bumi dalam artian, ada kontaminasi dari zat-zat yang tentu mempengaruhi kualitas air. Kita tidak hanya bicara soal air saja, tapi air yang bisa kita manfaatkan untuk tiga sektor utama sebelumnya. Dengan demikian apabila penggunaan air tanah dilakukan secara masif, maka cepat atau lambat, air tanah akan mencapai batasnya dari segi kualitas dan kuantitas.

Teknologi Solutif namun Implikatif

Untuk itu, kita mengenal adanya teknologi pengolahan air, desalinasi air laut, dan juga pengolahan air limbah industri. Pengolahan air untuk dapat digunakan kembali merupakan salah satu langkah untuk mengamankan dan mendukung peningkatan produksi air. Air akan tetap menjadi air meskipun terkontaminasi oleh kontaminan yang ada selama sifat aslinya tidak berubah. Dengan menggunakan teknologi tersebut, kebutuhan akan air dapat tercukupi bahkan dalam kondisi sulit air sekalipun.

Kecanggihan teknologi tentu tidak datang sebagaimana air yang tersedia dari alam. Harga yang tidak murah tentu harus dibayar untuk mendapatkan jaminan akan ketersediaan air. Desalinasi membutuhkan konsumsi daya yang tidak sedikit, teknik filtrasi modern juga akan senantiasa membutuhkan perawatan suku cadang secara berkala. Air limbah industri tidak bisa diolah dengan harga yang murah.

Dengan hambatan tersebut perlu adanya peran pendukung dari tahap atau langkah kedua yaitu, pembatasan permintaan dan penggunaan air bersih. Jika tidak demikian, meski menggunakan teknologi secanggih apapun dan biaya operasional tak terhingga sekalipun, kelangkaan air bersih akan selalu menjadi masalah. Oleh karenanya, perlu adanya sikap dan kesadaran dalam mengatur konsumsi air.

Manajemen Kebutuhan Air

Pengolahan air tentu terkait dengan infrastruktur dan juga anggaran yang tidak murah. Dengan adanya pengeluaran yang tidak sedikit tersebut menjadi pengelolaan kebutuhan air bersih cenderung mengarah pada sistem perpajakan. Mengenai pajak penggunaan air ini tentu banyak pihak yang akan menolak karena sejatinya air itu gratis. Dengan demikian maka pembagian jatah konsumsi air menggunakan rasio dapat menjadi solusi.

Penerapan rasio untuk membatasi penggunaan air tidak menimbulkan kesan kapitalis pada air bersih, semua pihak bisa mendapat air bersih pada cara ini. Pembagian jatah tidak hanya berdasarkan kuota yang tersedia, tapi bisa juga berupa debit air, perbedaan harga air di masing-masing lokasi, dan seterusnya. Hanya saja, pihak yang akan mendapat tugas dan tanggung jawab terbesar menangani hal ini adalah pejabat administrasi wilayah setempat.

Selain dari sistem pusat yang bertujuan menekan permintaan air bersih pada masing-maisng sektor, solusi lain datang dari sisi penerapan regulasi atau kebijakan. Peraturan penggunaan air bisa diterapkan untuk membatasi ruang gerak agar air tidak terbuang percuma meski dengan biaya operasional yang rendah. Dengan adanya pembatasan permintaan air dari sisi regulasi maka permintaan akan air bersih bisa lebih efisien.

Oleh karenanya, dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa, mengelola permintaan air bersih merupakan pendekatan yang seharusnya bersifat edukatif. Membuat lingkungan sekitar memahami betapa berharganya air bersih akan menjadikan pembatasan kebutuhan akan berjalan pada setiap individu. Dengan kesadaran pribadi inilah pengelolaan kebutuhan akan air bersih akan lebih mudah memberi dampak positif bagi ketersediaan air bersih di masa depan.

Peran Institusi dalam Memanfaatkan Teknologi

Tiga pelaku utama dalam mengemban tugas pengelolaan ketersediaan air bersih adalah pemerintah, perusahaan swasta, dan juga masyarakat sipil. Sinergi yang baik dalam mengoperasikan teknologi pengolahan air adalah hal yang paling penting pada masalah ini. Banyak temuan menunjukkan, teknologi tidak memberikan dampak sama sekali karena alasan biaya, kompetensi, atau insentif.

Penggunaan teknologi tentunya akan sangat membantu mempercepat penyelesaian masalah kelangkaan air bersih. Teknologi desalinasi, pendaur ulangan air bekas pakai, pengolahan limbah semua memiliki kemampuan yang sama yaitu menyediakan air bersih namun faktanya, banyak dari teknologi tersebut terbengkalai. Hal ini tentu bukan harapan semua pihak, pasalnya semua pihak sama-sama membutuhkan air. Oleh karena itu, rasa kesamaan akan kebutuhan tersebut hendaknya menjadi pendorong untuk bekerja sama.

Kerja sama itu dapat terwujud dengan optimalisasi peran pada masing-masing pelaku utama di atas. Perusahaan swasta dapat melakukan pengolahan air, bahkan air laut dengan cara yang paling efektif dan efisien. Pemerintah dapat mengeluarkan kebijakan yang bisa mendukung dan mensukseskan hal tersebut. Masyarakat sipil dapat turut serta untuk berinvestasi pada teknologi yang sedang dikembangkan oleh pihak swasta. Dengan demikian keuntungan akan kembali ke masing-masing pihak, karena semuanya terselamatkan dari krisis air bersih.

A(kh)irnya

Kualitas air akan tetap dan terus menurun seiring dengan semakin bertambahnya jumlah penduduk, dinamika gaya hidup, percepatan sektor industri dan perekonomian. Ada banyak sekali stategi untuk mengatasi masalah kelangkaan air dan juga pengelolaan air bersih. Solusi yang sudah diterapkan akan menjadi sia-sia karena sejatinya permasalahan air bersih adalah tanggung jawab semua pihak. Masalah yang begitu kompleks, akan cepat terurai apabila semua pihak dan masing-masing golongan mengesampingkan ego dan melangkah pada perbaikan dan perubahan. Sinergi pengembangan teknologi dan dukungan institusi memegang peranan penting untuk mengentaskan masalah ini. Tantangan demi tantangan pasti akan ada akan tetapi, kemiskinan, kelaparan, dan kesulitan hidup dapat kita atasi dengan langkah kecil untuk lebih perhatian dalam masalah air.

Ingin mengatasi masalah pengolahan air? Klik di sini

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »
error: Content is protected !!